Buku ini memuat potret permasalahan pelik yang sepertinya biasa terjadi dan merupakan keseharian orang-orang yang hidup di negara bagian bumi selatan: sengketa lahan dan penggusuran. Di dunia nyata, keseharian itu mungkin banyak berakhir kekalahan bagi rakyat kecil—dan juga alam. Dalam novel ini, kepelikkan itu dirangkai ulang tanpa menghilangkan nuansa sehari-hari yang normal nan biasa seperti rakyat kecil yang selalu ditakut-takuti oleh kelompok berseragam agar akal mereka tumpul dan tak berfungsi untuk memahami keadaan yang telah lapuk dikorupsi para pejabat negara.
Tahun Penuh Gulma adalah karya jurnalis dan sejarawan bernama Siddharta Sarma. Menceritakan seorang bocah laki-laki miskin bernama Korok, anggota Suku Gondi yang sederhana dan hidup terpencil di Desa Deogan. Cerita ini diambil dari kisah nyata Suku Dongria Kondh yang berjuang mempertahankan bukit Niyamgiri. Menghadirkan realitas mengenai komunitas yang terpinggirkan, perilaku korup pejabat negara dan aparat, serta ketidakadilan yang dialami masyarakat India–atau bahkan hal serupa di seluruh dunia.
Saya senang dengan cara Sarma menggambarkan detil situasi dan watak dari tokoh yang:
Nah jika ini jenis cerita yang berbeda, cerita di mana orang yang terlihat dari penampilan fisik mereka, Patnaik akan menjadi lelaki gemuk dengan dagu berlipat tiga, kumis yang keji dan mata juling. Bukan berarti punya kumis itu keji, tetapi beberapa kumis cocok untuk orang semacam itu. Namun ini bukan cerita semacam itu, maka penampilan Patnaik persis seperti yang diharapkan ibunya saat dia dewasa;
Dengan pengungkapan seperti itu, representasi keadaan tidak hanya terbaca cukup akurat namun juga mengagumkan. Hal ini memberikan kita imajinasi yang relatif lengkap akan sekelompok suku yang sehari-harinya dibuat latihan “tinju” kesewenang-wenangan oleh aparat hukum melalui kriminalisasi, dan yang suatu ketika harus berhadapan dengan raksasa yang lebih brutal lagi, yaitu perusahaan tambang dengan bekingan pemerintah–yang tentu sekaligus dengan aparat hukumnya.
"kalau mereka menginginkan petak bungamu atau desamu atau bukitmu, mereka akan mendapatkannya. Pemerintah akan memaksamu pindah, dan memberikan tanahnya kepada mereka. Ini sudah terjadi di tempat lain juga."
Sebagaimana buku remaja, Tahun Penuh Gulma merupakan kisah petualangan yang lumayan seru. Namun ini bukanlah kisah tentang jagoan super, melainkan sosok yang amat biasa dari kaum lemah itu sendiri. Memunculkannya sebagai sosok yang polos, rakus, lusuh namun cukup pandai dalam mengamati dan sedikit demi sedikit mulai belajar mengenali keadaan.
Korok makan dan terus makan sampai merasa hidup tanpa makanan selama empat atau lima hari kedepan; …dalam hal (pakaian) Korok, kemeja dan celana panjangnya yang paling bersih dibandingkan miliknya yang paling bersih tidak jauh lebih bersih dibandingkan miliknya yang paling kotor.
Korok tidak tahu banyak tentang memberi suara...dan saat itulah Korok mendapatkan ide cemerlangnya yang pertama.
Sepanjang cerita ini, kita juga disuguhkan oleh interpretasi budaya yang amat berbeda dari yang pada umumnya. Penulis berusaha dengan sangat yakin berpihak pada minoritas yang lemah melalui pemunculan pandangan budaya tersebut. Oleh karenanya, cerita ini bisa jadi membuat pembaca menata ulang kembali pandangannya tentang sesuatu yang bahkan sudah dianggap pasti, seperti waktu.
Namun datang “terlambat” dan “lebih awal” adalah kata-kata yang hanya bisa digunakan jika kita punya jam tangan.
Dari ungkapan yang cukup puitis tersebut saya jadi ingin tahu, apa gerangan yang membingkai penulisnya bisa mengatakan hal demikian. Saya menemukan istilah Noble Savage, pandangan orang kota atau modern terhadap kehidupan suku atau komunitas terpencil sebagai orang-orang yang hidup lebih bahagia dan lebih baik. Dan saya berkesimpulan bahwa pandangan tersebut bisa sangat berbahaya bagi keberlangsungan hidup orang suku atau komunitas terpencil itu. Mungkin kedengarannya seperti pandangan orientalisme bawaan penjajah negara utara dalam memandang bangsa jajahannya. Dengan pandangan tersebut, komunitas terpencil akan senantiasa menjadi objek. Objek yang indah dan tak berdaya sekaligus. Dan seperti hari ini, kita lihat di desa-desa, kenyataannya sangat berkebalikan. Desa jika disadari justru merupakan medan tempur yang mengerikan. Penguasa desa bisa jadi seperti setan; amat tidak toleran, bahkan kerap melakukan persekusi serta kekerasan.
Pada intinya komunitas terpencil tidak bisa untuk mudah disebut-sebut sebagai objek seenak kita karena mereka bisa memiliki pandangan yang amat berbeda.
Tahun Penuh Gulma juga merupakan potret imajiner dari proses awal terjadinya kapitalisme, yang gagal. Dan karenanya–mungkin–menjadi indah.
Mari kita anggap kapitalisme adalah alat yang membuat orang bisa dipenuhi dengan kekayaan, dan dalam proses mendapatkan kekayaan itu harus ada syarat yang harus dipenuhi yaitu perampasan dan penggusuran–bukan hemat atau menabung. Terdapat istilah khusus untuk menyebut awalan tersebut, yaitu Akumulasi Primitif. Akumulasi primitif ini harus sukses sebelum ke proses kapitalisme selanjutnya, sebelum sampai pada kondisi utuhnya yang melahirkan kekayaan yang beranak-pinak. Agar sukses, maka akumulasi primitif itu harus mengikuti prosedur “urut-urutan” lagi yang tergambar dalam novel ini.
Pertama, akumulasi primitif membutuhkan sosok cerdas secara teknis yang “nir-empati” dan ini diwujudkan dalam karakter berikut:
“Gosh...melihat mineral. Dia melihat logam; dia bahkan melihat angka-angka. Seiring bertambahnya umur, dia melihat sistem-sistem, seperti pemerintah dan perusahaan. Dia melihat struktur, seperti bisnis, atau pasar saham (yang dalam hal ini dia lumayan genius). Dia melihat ide-ide. Namun dia tak pernah bisa melihat orang.”
Urutan berikutnya adalah melakukan sosialisasi. Namun, sosialisasi ini harus dilakukan secara mendadak dan satu arah. Yakinkan orang-orang bahwa mereka ini tidak tahu apa-apa; tidak berdaya; tidak valid untuk hidup di dunia dengan cara mereka. Beri nama sosialisasi ini dengan pembangunan fisik untuk kesejahteraan serta kemajuan manusia sehingga terkesan bahwa orang desa itu amat butuh untuk dicerahkan serta ditolong. Ingat, pada urutan ini juga amat diperlukan kekuatan besar dari raksasa negara. Kekuatan besar itu ada dua, pertama adalah Orang Penting dan kedua Orang Menakutkan. Hal ini untuk membuat orang-orang biasa menjadi sungkan dan terpukau sehingga merasa rencana itu masuk akal. Selain itu, juga efektif untuk meminimalisir dialog yang tidak diinginkan.
Orang Penting haruslah mereka yang suka bicara dan kemana-mana membawa berkas yang dikumpulkan dalam satu map berisi aturan-aturan resmi yang membenarkannya. Sedang Orang Menakutkan itu harus melengkapi diri dengan senjata. Tahun Penuh Gulma menyebutkan Orang Penting itu diwakili oleh seorang ajudan kepala pemerintahan, sedang Orang Menakutkan diwakili oleh kepala kepolisian wilayah.
Karena ini pembangunan, maka terdapat kegiatan observasi wilayah sebelum dilangsungkan pembangunan tersebut. Nah, selama proses observasi dilakukan oleh tim ahli atau ilmuwan–bayaran, pastikan pengawalan dari Orang Menakutkan tersedia untuk menghadang penolakan impulsif dari warga lokal yang mungkin tidak sengaja merasa dicuekin yang tak jarang menggunakan kekerasan. Jika bentrokan meletus, antara Orang Menakutkan dengan rakyat bodoh impulsif yang menolak pembangunan untuk kesejahteraan atau kemajuan mereka sendiri itu, mungkin akan muncul sirkus media yang menarik simpati publik. Namun sirkus itu akan mereda dengan sendirinya, anggap saja memang mudah membuat berita orang tidak tahu tabiat pembangunan.
Rakyat penolak itu selain bodoh, pasti melakukannya karena adanya provokasi. Maka penting, untuk bisa mencari celah strategi, salah satunya adalah berupa penciptaan “Musuh Bersama”, yaitu musuh buatan yang sengaja dimunculkan sebagai musuh negara yang akan jadi kambing hitam. Niscaya ini sangat ampuh dan efektif.
Selama membaca Tahun Penuh Gulma, pikiran saya terlempar pada kejadian yang sangat dekat dengan kehidupan yang ada di Indonesia–Wadas, Pakel, Urutsewu, Gunung Kendeng, PSN-PSN yang tersebar ke seluruh penjuru negeri. Meski buku ini ditulis oleh orang di seberang lautan sana, sepertinya penindasan bekerja dengan cara yang sama saja. Seperti, entah mengapa, rakyat kecil itu selalu ditindas dan direnggut nasibnya. Direbut tanahnya, dan kemudian kebudayaannya. Sepertinya, negara-negara di belahan bumi selatan ini, dibangun dengan cara yang salah.





Comments
Post a Comment