| Diskusi Sharing Session #1 Lare Pare Berkebun di Angkringan Sempulur Tulungrejo, Pare |
(Notulensi Acara Sharing Session #1 Lare Pare Berkebun: Urban Farming)
Oleh: Samsul Wahab
Bukan suatu kebetulan, di tengah pandemi ini ada yang jadi dekat dengan setidaknya pada dua hal. Pertama adalah tetangga, yang sebelumnya hanya sebatas bertegur sapa kini sedikit lebih dengan saling bertanya kabar dan berita terkini. Kedua adalah kegiatan domestik, salah satunya yang sedang jadi selebriti, menanam dan merawat tumbuhan di rumah. Sesederhana itu pula alasan sebuah jalinan pertemanan menanam terbentuk dan yang selanjutnya dinamakan Lare Pare Berkebun lalu disingkat LPB.
Beberapa bulanan silam, tepatnya 25 Oktober 2020, LPB menggelar diskusi bertema Urban Farming yang dibuka untuk kalangan umum. Ya tujuannya agar pertemanan menanamnya jadi makin luas dan bisa banyak kegiatan berbagi pengetahuan serta pengalaman menanamnya.
Dalam diskusi itu LPB mengundang Mas Kuswari, seorang tokoh pegiat dunia pertanian. Beliau merupakan anggota dari Serikat Petani Indonesia, khususnya daerah Jawa Timur. Peserta diskusinya sendiri yang bergabung ada sekitar 15 an orang dengan latar belakang yang beragam. Mulai dari adik-adik yang masih SMP, teman-teman muda komunitas yang juga beragam di Pare, media, guru, hingga ibu rumah tangga.
Kita membicarakan pertanian secara umum dan secara keseluruhan menjawab pertanyaan yang bersifat awal: bagimu apa itu tani dan bagaimana caramu bertani?
“Saya dulu memulai kegiatan bertani dari SMA, motivasinya ingin punya motor, tapi karena banyaknya biaya yang dikeluarkan sedangkan hasilnya pun juga tidak mendapatkan harga yang setimpal, keinginan saya jadi tertunda”, Kata Mas Kuswari membuka diskusi
“Padahal mbah-mbah kita dulu bisa bertani tanpa banyak keluar biaya dengan memanfaatkan hal-hal alami yang telah disediakan lingkungan alam sebagai pupuk”, lanjutnya
Jaman sekarang bertani bisa dijadikan kegiatan yang sifatnya profan (sampingan), tambahnya, hal ini bisa dilihat penghobi tanamanan di perkotaan.
“Tentu bermacam-macam saat ini bentuk-bentuk kegiatan bertani tinggal dilihat orang-orangnya. Orang modern mengutamakan alat dan penemuan dari hasil budidaya. Orang tua kita dulu bertani lebih sebagai budaya atau cara dalam menjalani hidup. Orang kota atau orang urban dengan Urban Farming-nya dengan memanfaatkan lahan sempit juga penggunaan polybag yang 90an itu belum ada itu (polybag). Juga ada saudara-saudara kita yang hidup dan bertani di dekat hutan. Mereka adalah teman-teman yang sering terlibat konflik. Bagaimana itu, menanam tapi dipenjara?”, jelas Mas Kuswari
Mas Kuswari menambahkan bahwa Petani itu selayaknya dihargai lebih dari sekadar angka dalam uang. Produksi pangan yang dilakukan memiliki manfaat yang besar. Makanan yang dikonsumsi akan bersirkulasi dalam tubuh. Energi yang dihasilkan dari pangan begitu kita perlukan. Nilai manfaatnya jika kita rasakan tidak akan sebanding dengan angka yang kita lekatkan. Dan selanjutnya, pangan itu juga akan berproses di alam yang bisa dimanfaatkan kembali oleh organisme lain dan dari situ menimbulkan sebuah perputaran abadi.
Peserta diskusi yang lain, Bu Wiwik, menyampaikan pendapatnya, “Sekarang petani menjadi lebih populer daripada yang terjadi di masa lalu yang selalu kalah dengan citra ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). Kini pun, pertanian adalah peluang usaha yang bagus. Ini berkat teknologi informasi juga yang menampilkan sisi praktis, kemudahan, serta kecanggihan bertani. Bertani bukan hal yang ndeso lagi”
Anggi, peserta yang merupakan seorang mbak-mbak bertanya mendasar dan filosofis, “Kenapa sih kita menanam?”
Hal tersebut ditanggapi oleh Mas Kuswari, “Menanam untuk keluarga kita. Jariyah yang muncul lebih dari sekadar uang itu tadi. Saya sendiri kalau bisa anak-anak saya memakan pangan hasil budidaya yang saya lakukan. Karena saya bisa tahu apa yang merasuk dalam tubuhnya.”
Mas Dedi bertanya ke forum, “Kini masih sering didengar, bahkan di desa, orang tua yang memerintahkan ke anaknya, jangan jadi petani! Apakah hal tersebut menunjukkan lunturnya nilai-nilai tani. sejak kapan paradigma sosial itu berubah tentang petani?”
Mas Kuswari menanggapi bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang disebutnya sebagai “by design”. Beliau lalu menambahkan cerita lain sekitar saat tahun 80-an telah dilaksanakan kebijakan bernama Revolusi Hijau. Revolusi hijau adalah bentuk modernisasi pertanian untuk meningkatkan hasil budidaya terutama padi. Salah satu bentuk modernisasi itu adalah penggunaan pupuk kimia secara masif.
Azam seorang pemuda dari Surowono, daerah pusat budidaya ikan memberikan informasi mengenai pertanian di tempatnya. Bahwa di sana (Surowono) sebuah petak sawah yang setelah dijadikan tambak ikan ketika di kemudian hari akan dijadikan lahan pertanian, maka tanahnya akan subur dan tidak perlu lagi diberikan pupuk atau bahkan bisa diterapkan pertanian organik atau alami.
Anggi kembali berpendapat bahwa dirinya jika bertani ya tinggal kita memulainya saja kalau bingung lihat video yang tentu harus kredibel.
“Banyak kok di kanal-kanal Youtube”, katanya
| Media tanam berupa kompos, arang sekam, sekam yang telah diberikan campuran pupuk organik cair. |
Bertani memang tidak sekadar menanam tapi di baliknya sangat banyak sekali cerita seru yang bisa didapatkan atau bahkan justru permasalahan yang perlu campur tangan kita semua untuk diselesaikan untuk pertanian kita yang lebih baik.
Akhir cerita kami berfoto bersama dengan sebelumnya telah disiapkan souvenir berupa media tanam ukuran 5 kilogram racikan LPB sendiri dan berbagai macam benih yang bisa dipilih peserta sebanyak tiga jenis untuk dibawa pulang peserta.
“Lare Pare Berkebun - Berteman dan Menanam!”
*penulis adalah petani yang juga pengajar partikelir paruh waktu. Anggota Kolektif Lare Pare Berkebun.
Comments
Post a Comment